Posts

Jangan Seperti Bapak

Image
Keputusan Doni sudah bulat. Dia mau merantau ke Jakarta. Ikut tetangganya yang saat ini punya toko bahan bangunan dan sedang cari pegawai untuk angkat-angkat barang.
“Lee.. coba dipikir lagi toh.. Bapakmu itu nanti siapa yang urus.. siapa yang menemani?”
Sepurane, Bulek.. keputusanku sudah bulat. Selama Bapak tidak mau membiayai aku masuk sekolah penerbangan, aku sekalian dadi kuli saja di kota!”
Bulek Wati menghembuskan nafas pajang. Menyerah dengan kekeras-kepalaan Doni yang jelas menurun dari kakaknya, Ayah Doni. Ditatapnya seorang lelaki kurus kering yang sedang duduk tak jauh darinya. Lelaki itu diam hanya tangannya yang sibuk mengasah golok. Pura-pura tuli padahal Wati yakin lelaki itu sedang menguping. Terlihat dari gerak asahannya yang semakin kencang. Tanda ia sedang menahan amarah.
“Mas Yatmo! Iki loh anakmu wes ndak bisa dibilangi. Dituruti saja toh apa maunya itu.” Wanita yang selama tiga tahun terakhir ini mengurus Doni itu pun berkeluh.
Sambil mengikat tali sepatu terakhirny…

Tidak Semudah Itu, Ferguso!

Image
“Assalamualaikum..” Setyo memasuki ruang tamu rumahnya sambil tersenyum riang. Ditentengnya tas dan jas hitamnya yang sedikit lusuh dengan sebelah tangan. Tangan kirinya yang bebas terulur menuju saklar. Rumahnya sepi. Setyo sebentar heran lalu mengangguk-angguk sedetik kemudian. Dia baru sadar ini sudah pukul 1 dini hari. Istrinya, Rara, pasti sudah bermimpi sampai dua babak.
Setyo berjalan menuju dapur. Lalu bergegas menaruh jasnya di keranjang laundry. Dirapikannya jas itu hingga masuk sempurna semua bagiannya. Lelaki jangkung dengan paras menawan itu segera mandi dan bersiap tidur di samping istrinya, yang saat ini menguasai hampir seluruh permukaan kasur lebar ini. Kaki-kakinya menyilang. Yang kiri ke kanan. Yang kanan ke… atas? Setyo terperanjat melihat bantalnya kini ada tepat di bawah telapak kaki Rara. Enggan mengganggu tidur lelap “mantan kekasih”nya itu, ia pun beranjak tidur di sofa ruang tamu. Terpisah sekitar tujuh meter dari wanita yang baru dinikahinya satu bulan silam.

Janji

Image
“Bunda, kelewat itu tadi harusnya belok kanan!”
Aku terkesiap. Rem kuinjak spontan. Klakson kencang dari belakang berbunyi nyaring. Mataku terpejam takut. Sungguh, aku belum siap.
“Bunda…”

Suara Asa, anakku, membuatku sadar kembali. Rona khawatir tercetak jelas saat kutatap wajahnya. “Aku ke dalemnya jalan aja gapapa.

Aku menggeleng. Kembali mengatur perseneling dan mulai menginjak gas perlahan. Tinggal satu belokan dan kini deretan huruf yang selama ini kuhindari itu hadir tepat di arah jam duabelas. Stasiun Kiaracondong.

“Bunda, itu Rani sama orang tuanya udah ada. Asa pamit ya.” Aku menerima ciuman tangannya. Isakan tangisnya yang samar membuatku memeluknya erat. Hari ini ia harus pergi ke timur kurang lebih 600 kilometer jauhnya. Hasil tes SBMPTN sebulan lalu menyuratkannya untuk tinggal begitu jauh.

Tidak lama kemudian, informasi mengenai kedatangan kereta Pasundan terdengar. Kereta datang tepat di pukul 5.15 pagi. Asa dan Rani, temannya, bergegas menuju petugas pemeriksa tiket. Di sit…

Dilematika Ibu Bipolar, Sebuah Opini untuk Ben dan Marshanda

Image
Hari Senin, 16 April 2018, ratusan ribu warganet dibuat haru oleh kiriman Instagram seorang selebritis tanah air yang cukup populer, Marshanda. Aktris berusia 28 tahun ini menuliskan puisi yang sangat jujur dan rapuh tentang rasa rindu pada putrinya. Dalam salah satu kirimannya, ia menyatakan alasan membagikan rasa sedihnya tersebut.  "I posted it not only to share my honest expression, but also with a genuine hope that some of you will feel relieved and inspired, karena tau bahwa ada orang lain diluar sana yang juga struggle karena akibat-akibat dari memiliki mental illness."
Ketika mendengar kata "mental illness" atau gangguan jiwa, kebanyakan orang pasti akan menyamakan hal tersebut dengan istilah gila. Padahal gangguan jiwa itu banyak sekali jenisnya. Bahkan menurut International Classification of Disease-10 (ICD-10), buku panduan dokter dan psikolog di Eropa, orang yang kecanduan rokok dan yang tidak bisa tidur malam pun disebut mengalami gangguan kejiwaan.

A…

Antara Dilan, Dukun dan Bubarnya Indonesia (3)

Image
Riuhnya ramalan ini mengundang berbagai kalangan untuk angkat bicara. Mulai dari ahli ilmu militer dan strategi perang, ahli ekonomi, politisi, para menteri, bahkan Pak Jokowi. Tak mau kalah warganet juga ikut menyuarakan haknya. Sayangnya, malah jadi ajang gontok-gontokkan, debat kusir, antara fans fanatik pemerintah dan oposisi.

Dalam "karya fiksi"-nya tersebut, Peter dan August melampirkan 400 catatan kaki yang dirujuk dalam penulisan novel tersebut. Isinya kutipan dari hasil penelitian ilmiah sungguhan. Tapi memang tidak ada satupun yang berisi mengenai sebab musabab bubarnya Indonesia. Apa kisah nestapa negeri kita di sana betul-betul cuma "pemanis"?

Memang tidak salah, namanya juga karya "fiksi". Tapi, efeknya bagi kita, ini besar sekali.

Saya yakin, sebagian besar dari kalian yang membaca tulisan saya ini, belum pernah mengalami peperangan secara langsung kan? Paling-paling perang rebutan tower di layar handphone. Dalam novel Ghost Fleet, katanya …

Antara Dilan, Dukun dan Bubarnya Indonesia (2)

Image
Ramalan bubarnya Indonesia di tahun 2030, dikutip dari sebuah novel fiksi yang terbit 3 tahun lalu. Ghost Fleet: A Novel of the Next World War, judulnya. Ditulis oleh Peter Warren Singer dan August Cole. Sebetulnya Indonesia sendiri tidak banyak disinggung dalam novel ini. Inti cerita lebih berfokus pada perang antara China dan Amerika Serikat pada tahun 2030. Kata 'Indonesia' hanya disebut tujuh kali di dalam novel 400 halaman ini.

books.google.com
Pada Bagian I halaman 13, Singer dan Cole menuliskan kata "former Republic of  Indonesia" yang berarti "bekas Republik Indonesia". Setelahnya, tiga kata itu kembali disebut di halaman 19, 29 dan 62. Hal inilah yang menjadi asal-muasal ramalan bubarnya Indonesia 22 tahun mendatang, yang mendadak ramai setelah disebut Pak Prabowo dalam acara peresmian dan bedah buku bertema ekonomi-politik di UI.

Sebetulnya, karya fiksi tidak sah untuk dirujuk dalam sebuah pernyataan ilmiah. Karena tulisan fiksi sendiri dianggap s…

Antara Dilan, Dukun dan Bubarnya Indonesia (1)

Image
"Kamu Milea ya?"
"Iya."
"Aku ramal..."

Tiga baris kalimat itu, tiga bulan belakangan ini benar-benar viral. Tak tanggung-tanggung, ratusan meme dan parodi plesetan dibuat. Meriah. Tanpa perlu ditulis di sini, kalian juga pasti tahu itu kutipan dialog siapa. Dilan dan Milea. Tokoh ciptaan Pidi Baiq, dalam novel "Dilan 1990".

Saya tidak nonton filmnya. Jangan tanya kenapa, sudah pernah disinggung di sini. Tapi trailer-nya. Bujubuseet! Selalu muncul dimana-mana. Wajar saja, yang like jutaan, yang komentar ribuan. Berterimakasihlah pada penjual pemutih, peninggi, pelangsing yang turut meramaikan.

Dari hasil surfing, tanpa nonton film atau baca novelnya, yang bisa saya simpulkan adalah, Dilan ini suka meramal ya?
Masih jadi misteri.. Siapa nama bapaknya Milea?
Oh jadi kamu Dilan yang pake fake account jual pemutih, peninggi, pelangsing, $%@^!?
Ini Dilan, apa Dukun?
Sebagaimana kita tahu, sejak dulu praktik mistik dan klenik memang populer di Indonesia. A…